RESENSI NOVEL: BILA WAKTU BICARA KARYA GOL A GONG

BILA WAKTU BICARA


Judul Novel   : Bila Waktu Bicara
Penulis           : Gol A Gong
Penerbit         : Era Publishing
Tahun Terbit : 1, 2004
Halaman        : 195 Halaman
ISBN                : 979-3527-01-3

Novel tentang kehidupan yang menyinggung soal kesenjangan sosial antara kaum sosialita dan rakyat jelata. Bila Waktu Bicara karya Gol A Gong ini mengisahkan tentang seorang dokter bernama Bagas yang terlibat dalam sebuah masalah karena tidak mampu melawan kekuasaan kakak iparnya yang bernama Menggung Broto, orang terhormat dan terpandang seantero Yogyakarta, namun memiliki watak yang keras dan kasar. Bagas tidak bisa mengatakan 'Tidak' ketika Menggung Broto mengangkat bayi laki-laki Marwoto, seorang pria miskin yang istrinya melahirkan diwaktu yang bersamaan dengan Jeng Laksmi. Bagas terpaksa mengiyakan apa kata Menggung Broto, dan mengatakan pada Marwoto bahwa istri dan anaknya tidak bisa diselamatkan.

Karena itu, Bagas merasa sangat bersalah. Ia merasa marah dan kecewa pada dirinya sendiri, hingga ia memutuskan untuk mengasingkan diri ke Calcutta untuk menghindari masalah itu. Selama mengasingkan diri, ia sangat berantakan dan jauh dari jalan Tuhannya. Ia bahkan melakukan hal yang dilarang agama dengan Linda, wanita keturunan Inggris-Jawa yang meminta Bagas mengantarnya ke Semarang untuk menemui ibunya.

Namun, Bagas selalu takut untuk pulang ke negaranya. Ia selalu terbayang akan wajah bayi laki-laki yang diangkat Menggung Broto dan wajah sedih Marwoto. Ia takut akan masalah yang ia hindari. Namun Linda selalu mendorongnya agar berani menghadapi masalahnya, bukan malah terus menghindari dan hidup dengan dibayangi rasa bersalah. Rupanya perkataan Linda berhasil membuatnya tersadar akan semua kesalahan yang selama ini ia perbuat. Ia mulai kembali pada jalan-Nya, dan mulai menjaga jarak dengan Linda karena sadar bahwa selama ini yang ia lakukan dengan Linda itu dilarang dalam agama.

Linda kesal dengan perubahan sikap Bagas, sebab Bagas semakin berusaha menjauhinya. Hingga akhirnya Bagas benar-benar mantap kembali ke jalan Tuhannya dengan pergi ke Makkah untuk beribadah. Sejak saat itu, mereka berpisah. Bagas pergi ke Makkah, lalu memberanikan diri pulang ke Yogyakarta. Kedatangannya disambut baik oleh kakaknya, namun berbanding terbalik dengan kakak iparnya. Menggung Broto marah, karena ia sudah tahu bahwa Rio, anak laki-lakinya, bukanlah anaknya, melainkan anak si pria miskin itu. Dan ia meminta Bagas untuk mengkonfirmasinya.

Bagas pun membenarkan apa yang dikatakan kakak iparnya. Menggung Broto semakin marah dan Laksmi menangis mendengar dugaannya selama yang ini tidak ingin dia dengar ternyata benar adanya. Sejak saat itu Menggung Broto berpisah dengan Jeng Laksmi. Ia membawa kedua putrinya, sedangkan Jeng Laksmi memutuskan untuk mengasingkan diri seperti Bagas, mendekat diri kepada Allah. Jeng Laksmi ikhlas bila Rio dikembalikan kepada ayahnya. Akhirnya Bagas membawa Rio menemui ayah kandungnya. Sayangnya, ketika hari dimana Rio bertemu Marwoto, ayah kandungnya, dihari itu pula ayahnya meninggal. Rio pun akhirnya diasuh oleh Bagas. Di sisi lain, Linda yang sudah berpenampilan layaknya wanita Arab sejak dari Kuala Lumpur datang ke Indonesia untuk menemui Bagas. Kemudian mereka menikah dan mengangkat Rio sebagai anaknya.

Novel ini banyak mengandung nilai-nilai kehidupan, baik sesama manusia maupun kepada Tuhan. Bila Waktu Bicara mengajarkan bahwa waktu tidak bisa diputar, dikembalikan, ataupun ditambah. Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu dengan sebaik mungkin dengan melakukan hal yang baik. Gol A Gong secara garis besar menyampaikan pesan bahwa kita tidak boleh lari dari masalah. Sebab Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya. 

Gol A Gong mengemas cerita ini dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dimengerti oleh pembaca. Hanya saja terdapat beberapa bahasa daerah didalam dialog maupun uraiannya yang membuat bingung sebagian pembaca yang tidak mengerti. Gol A Gong juga menampilkan alur yang menarik pada novel ini, dimana alur dibuat bolak-balik. Bagian pertama berkisah di masa sekarang, lalu pada bagian kedua berkisah dimasa lalu, bagian ketiga kembali lagi ke masa sekarang, dan bagian keempat kembali berkisah dimasa lalu, begitu seterusnya. Ini alur yang unik, namun tidak dipungkiri bahwa alur seperti ini akan membingungkan pembaca ketika di awal cerita.


Disamping itu semua, buku ini banyak mengandung nilai kehidupan yang dapat bermanfaat bagi kita semua😊

Komentar